10 Jajanan Khas Bandung, Murah, Enak dan Bikin Ketagihan, Dengan Daftar Jajanan Legendaris yang Masih Eksis
Daftar jajanan murah di Bandung lengkap dengan harga, lokasi, dan jam buka. Mulai Rp500, cocok untuk kulineran hemat bareng teman.

INFONA - Bandung tak pernah gagal menggoda selera. Di kota yang dijuluki Paris van Java ini, jajanan kaki lima justru menjadi bintang utama. Dari gang sempit perumahan hingga ruas jalan ramai dekat kampus, aroma gorengan, kuah kaldu hangat, dan bumbu kacang yang legit seolah jadi parfum khas Kota Kembang.
Yang bikin makin bahagia, banyak jajanan khas Bandung yang harganya super ramah di kantong. Bahkan ada yang bisa dimulai dari Rp500 saja per biji.
Buat kamu yang ingin wisata kuliner hemat tanpa bikin dompet menjerit, daftar ini bisa jadi panduan lengkap, sekaligus jawaban cepat untuk kamu yang bertanya: jajanan murah di Bandung apa saja dan di mana lokasinya?

Berikut rekomendasi jajanan khas Bandung murah meriah, lengkap dengan kisaran harga, lokasi, dan tips menikmatinya.
1. Tahu Bulat — Mulai Rp500 per Biji
Kalau dengar suara rekaman “tahu bulat digoreng dadakan…”, hampir pasti kamu langsung menoleh. Tahu bulat adalah fenomena jajanan Bandung yang kemudian viral hingga ke berbagai kota di Indonesia.
Digoreng langsung di atas mobil pickup, tahu ini disajikan dalam kondisi panas mengepul, bagian luar renyah dan bagian dalamnya kopong lembut. Biasanya ditaburi bumbu bubuk rasa pedas, balado, atau keju.
Harga: mulai Rp500 per biji
Cara beli: cari mobil pickup atau gerobak keliling di kawasan perumahan
Tips: beli saat baru diangkat dari penggorengan agar teksturnya maksimal renyah
2. Cilok — Kenyal, Murah, dan Ikonik
Belum sah ke Bandung kalau belum jajan Cilok. Singkatan dari “aci dicolok” ini terbuat dari tepung tapioka yang menghasilkan tekstur kenyal khas.
Disajikan dengan tusukan bambu seperti sate, cilok biasanya disiram bumbu kacang kental atau saus sambal pedas gurih. Penjualnya mudah ditemukan di depan sekolah, pasar tradisional, hingga pinggir jalan.
Harga: Rp500–Rp1.000 per tusuk
Lokasi: tersebar di seluruh wilayah Bandung
Kenapa murah? bahan dasar tepung tapioka membuat biaya produksi rendah namun tetap mengenyangkan
3. Cimol dan Cireng — Duo Aci Favorit Semua Generasi
Bandung memang “kerajaan aci”. Cimol (aci digemol) berbentuk bulat kecil dan digoreng hingga mengembang, sementara Cireng (aci digoreng) biasanya pipih dan renyah di luar.
Kini, cireng hadir dalam berbagai varian isi seperti ayam suwir, oncom, keju, hingga cabai rawit utuh untuk pencinta pedas ekstrem.
Harga: Rp2.000–Rp5.000 per buah
Rekomendasi: coba cireng isi cabai rawit untuk sensasi pedas yang “nendang”
Waktu terbaik: sore hari saat baru matang dari wajan
4. Cuanki — Bakso Ikan Kuah Hangat Legendaris
Cuanki sering disebut sebagai “bakso tanpa mie” khas Bandung. Isinya bakso ikan, tahu, dan siomay kering yang disiram kuah kaldu gurih.
Salah satu yang paling legendaris adalah Cuanki Serayu di kawasan Cihapit. Tempat ini sudah lama jadi langganan warga lokal maupun wisatawan.
Harga: Rp10.000–Rp15.000 per porsi
Lokasi: Jalan Serayu No. 2, Cihapit, Bandung
Jam buka: 11.00–19.00 WIB
Kuahnya ringan tapi kaya rasa, cocok dinikmati saat cuaca Bandung yang sejuk
5. Batagor Hanjuang — 6 Potong Rp10.000
Batagor adalah ikon kuliner Bandung yang tak lekang waktu. Versi hematnya bisa ditemukan di Batagor Hanjuang di kawasan Cicendo.
Dengan Rp10.000, pembeli bisa menikmati enam potong batagor lengkap dengan siraman bumbu kacang yang kental dan gurih.
Harga: mulai Rp10.000 (6 potong)
Jam buka: 08.00–15.15 WIB
Lokasi: Jalan Astina No. 17, Pamoyanan, Cicendo
Tips datang: sebelum jam makan siang agar tidak kehabisan
6. Seblak — Pedasnya Bikin Nagih
Tak lengkap membahas jajanan Bandung tanpa Seblak. Hidangan kerupuk basah berkuah dengan aroma kencur ini punya cita rasa pedas gurih yang khas.
Salah satu yang populer dan terjangkau adalah Seblak Oces di kawasan Dipati Ukur, dekat area kampus.
Harga: Rp6.000–Rp15.000 per porsi
Varian: seblak basah, kering, ceker, mie
Cocok untuk: pencinta makanan pedas level dewa

7. Awug Beras — Kue Tradisional Sunda yang Lembut
Awug adalah kue tradisional berbentuk kerucut kecil mirip tumpeng, terbuat dari tepung beras dan gula merah.
Salah satu penjual yang dikenal warga lokal adalah Awug Cibeunying di Jalan Jenderal Ahmad Yani.
Harga: mulai Rp5.000 per porsi
Jam buka: sejak pukul 10.00 WIB
Cara makan terbaik: santap saat masih hangat agar teksturnya lembut maksimal
8. Bandros — Pancake Tradisional Khas Bandung
Bandros berbentuk setengah lingkaran dengan tekstur lembut dan aroma kelapa yang kuat. Biasanya dijual di pagi hari di pasar tradisional atau gerobak pinggir jalan.
Harga: Rp2.000–Rp3.000 per buah
Waktu terbaik: pagi hari saat baru diangkat dari cetakan
Cita rasa: gurih dengan sedikit sentuhan manis
9. Zona Merah Sukajadi — Nongkrong Murah Sampai Dini Hari
Untuk kamu yang mencari jajanan malam murah, Zona Merah Sukajadi bisa jadi pilihan. Konsepnya mirip angkringan dengan menu serba tusuk.
Mulai dari jeroan, ayam, hingga telur puyuh tersedia dengan harga sangat terjangkau.
Harga: mulai Rp2.000 per tusuk
Jam buka: 10.00–04.00 WIB
Cocok untuk: makan malam santai atau nongkrong hemat bareng teman
10. Basreng — Camilan Kering Viral
Basreng atau bakso goreng kering kini jadi camilan populer sekaligus oleh-oleh khas Bandung. Irisan bakso digoreng hingga renyah lalu dibumbui pedas daun jeruk.
Harga: Rp10.500–Rp37.000 (100 gram–1 kg)
Tempat beli: warung jajanan, minimarket lokal, marketplace
Keunggulan: tahan lama dan praktis dibawa bepergian
Sebagian besar tersebar di pinggir jalan, depan sekolah, pasar tradisional, hingga kawasan kampus seperti Dipati Ukur dan Cihapit.

Budget wisata kuliner hemat di Bandung, Dengan Rp20.000–Rp30.000, kamu sudah bisa mencoba 3–4 jenis jajanan berbeda.
Bandung membuktikan bahwa wisata kuliner tak selalu harus mahal. Di balik gerobak sederhana dan warung kaki lima, tersimpan cita rasa otentik yang justru bikin rindu.
Jadi, kalau sedang berburu jajanan murah di Bandung, daftar ini bisa jadi panduan praktis. Siapkan uang receh, ajak teman, dan nikmati sensasi kulineran ala warga lokal, hemat tapi tetap memorable.
Penulis: WD Nursari
Editor: Tim infona.id








