1. Home
  2. Ragam

Niat Puasa Qadha Ramadhan yang Benar, Lengkap dengan Tata Cara dan Hukumnya

Pelajari puasa qadha Ramadhan: pengertian, niat yang benar, waktu pelaksanaan, dalil, serta hal yang membatalkan puasa

Niat Puasa

INFONA.id - Puasa qadha Ramadhan adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap Muslim yang meninggalkan puasa Ramadhan karena uzur syar’i, seperti sakit, haid, nifas, atau sedang dalam perjalanan (safar).

Ibadah ini berfungsi sebagai pengganti puasa yang tertinggal agar tanggungan kepada Allah SWT dapat dilunasi dengan sempurna.

Artikel ini akan mengulas secara lengkap pengertian puasa qadha, dasar hukumnya, bacaan niat, waktu pelaksanaan, tata cara, hingga hikmah dan tips agar qadha puasa berjalan lancar dan sah sesuai syariat.

Pengertian Puasa Qadha

Puasa qadha adalah puasa wajib yang dilakukan untuk mengganti hari-hari puasa Ramadhan yang ditinggalkan.

Kewajiban ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 184 yang menjelaskan bahwa orang yang sakit atau bepergian diperbolehkan berbuka, namun wajib menggantinya di hari lain.

Puasa qadha termasuk fardhu ‘ain, artinya harus dilaksanakan sendiri dan tidak dapat diwakilkan. Waktu pelaksanaannya terbuka hingga datang Ramadhan berikutnya, meskipun lebih utama jika disegerakan setelah Ramadhan usai.

\Menunda qadha tanpa uzur hingga masuk Ramadhan berikutnya dapat menimbulkan kewajiban tambahan, seperti fidyah, menurut sebagian pendapat ulama.

Dalam Mazhab Syafi’i yang banyak dianut di Indonesia, puasa qadha boleh dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan, misalnya satu hari demi satu hari hingga jumlah utang puasa terpenuhi.

Dalil Hukum Puasa Qadha

Dasar hukum puasa qadha bersumber dari Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW. Selain QS. Al-Baqarah ayat 184–185, Rasulullah SAW juga bersabda bahwa siapa pun yang berbuka karena sakit atau safar wajib mengganti puasanya di hari lain (HR. Bukhari dan Muslim).

Para ulama, termasuk Imam Nawawi dalam Al-Majmu’, menegaskan bahwa qadha puasa adalah bentuk pelunasan utang ibadah kepada Allah SWT dan harus diprioritaskan. Di Indonesia, pandangan ini sejalan dengan fatwa MUI serta pendapat ulama NU yang menekankan pentingnya menyegerakan qadha sebelum melakukan puasa sunnah.

Bacaan Niat Puasa Qadha Ramadhan

Niat merupakan rukun utama dalam puasa wajib, termasuk puasa qadha. Niat harus dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar.

Lafal niat puasa qadha Ramadhan:

Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى

Latin:
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’i fardhi syahri Ramadhana lillahi ta‘ala.

Artinya:
“Aku berniat berpuasa esok hari untuk mengganti kewajiban puasa bulan Ramadhan karena Allah Ta‘ala.”

Perbedaan utama dengan niat puasa Ramadhan adalah adanya kata “qadha’i” yang menandakan puasa pengganti. Jika niat tidak dilakukan pada malam hari, maka puasa qadha dinilai tidak sah.

Waktu dan Syarat Niat Puasa Qadha

Niat puasa qadha dilakukan sejak setelah Maghrib hingga sebelum Subuh. Berbeda dengan puasa sunnah, puasa qadha tidak boleh diniatkan di siang hari.

Syarat sah niat puasa qadha antara lain:

  • Dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT

  • Menyebutkan secara jelas puasa qadha Ramadhan

  • Dilakukan pada waktu yang ditentukan (malam hari)

Jika memiliki utang puasa, dianjurkan mendahulukan qadha sebelum melaksanakan puasa sunnah seperti puasa enam hari di bulan Syawal.

Tata Cara Pelaksanaan Puasa Qadha

Secara praktik, puasa qadha dilakukan sama seperti puasa Ramadhan. Berikut urutannya:

  1. Membaca niat di malam hari sebelum Subuh

  2. Sahur sebagai sunnah untuk menambah kekuatan

  3. Menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak Subuh hingga Maghrib

  4. Berbuka puasa saat Maghrib dengan menyegerakan berbuka

  5. Memperbanyak ibadah, seperti shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an

Jika puasa qadha batal karena sebab tertentu, maka wajib mengulang di hari lain.

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa Qadha

Pembatal puasa qadha sama dengan puasa Ramadhan, di antaranya:

  • Makan dan minum dengan sengaja

  • Hubungan suami istri di siang hari

  • Muntah dengan sengaja

  • Datangnya haid atau nifas

  • Memasukkan sesuatu yang bersifat nutrisi ke dalam tubuh

Adapun makan atau minum karena lupa tidak membatalkan puasa.

Fidyah sebagai Pengganti Qadha

Bagi orang yang tidak mampu menjalankan qadha secara permanen, seperti lansia atau penderita sakit kronis, maka kewajibannya diganti dengan membayar fidyah.

Fidyah berupa pemberian makanan pokok sebanyak satu mud untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Namun, jika masih ada kemampuan untuk qadha, maka qadha tetap menjadi kewajiban utama.

Hikmah dan Keutamaan Puasa Qadha

Puasa qadha mengajarkan tanggung jawab, kejujuran terhadap diri sendiri, serta ketaatan penuh kepada Allah SWT. Ibadah ini juga menjadi sarana penyucian diri dari kelalaian dan bentuk taubat atas kewajiban yang sempat tertunda.

Di tengah kesibukan masyarakat modern, termasuk di kota-kota besar, pelaksanaan qadha puasa melatih disiplin dan manajemen waktu. Tak sedikit umat Islam di Indonesia yang memilih bulan Sya’ban sebagai waktu terbaik untuk melunasi utang puasa sebelum Ramadhan tiba.

Tips Agar Puasa Qadha Berjalan Lancar

  • Buat jadwal qadha secara realistis

  • Jaga kesehatan dan konsultasi ke dokter jika memiliki kondisi tertentu

  • Perbanyak doa agar dimudahkan

  • Catat jumlah hari puasa yang telah ditunaikan

  • Lakukan bersama keluarga atau komunitas agar lebih konsisten

Kesalahan Umum dalam Puasa Qadha

Beberapa kekeliruan yang perlu dihindari antara lain:

  • Berniat puasa qadha di siang hari

  • Menggabungkan niat qadha dengan puasa sunnah

  • Menunda qadha tanpa alasan hingga Ramadhan berikutnya

  • Mengabaikan kewajiban fidyah bagi yang tidak mampu qadha

Dengan memahami ketentuan puasa qadha secara benar, ibadah yang dilakukan akan sah dan bernilai sempurna di sisi Allah SWT. Semoga penjelasan ini membantu menyempurnakan kewajiban kita dan menjadi amal yang diterima. Wallahu a’lam.***

Penulis: Suhardi Arjuna

Editor: Tim infona.id